Seberapa Sahih Naskah Perjanjian Baru Kita?
- Details
- Created on Wednesday, 05 January 2011 09:42
- Last Updated on Wednesday, 16 February 2011 20:05
- Published Date
- Written by Yohanes Eko
- Hits: 17593

S
eberapa sahihkah naskah-naskah yang menjadi bagian dari Alkitab kita, khususnya Perjanjian Baru? Benarkah ada ribuan kesalahan pada naskah Perjanjian Baru dalam proses penyalinan dari naskah aslinya (otografa)? Jika demikian, bagaimana kita bisa mengklaim bahwa kita masih memiliki naskah Alkitab yang otentik saat ini? Sayangnya, tidak ada satu pun naskah asli Perjanjian Baru yang masih bertahan sampai saat ini. Naskah yang kita miliki merupakan rekonstruksi berdasarkan salinan dari salinan yang dibuat oleh sekian banyak penyalin selama berabad-abad. Sehingga, untuk Perjanjian Baru, kita memiliki jumlah manuskrip yang sangat besar. Bayangkan saja, untuk koleksi tulisan yang agak kecil (27 kitab), kita memiliki tidak kurang dari 5.700 manuskrip dalam bahasa Yunani, belum termasuk 10.000 manuskrip dalam bahasa Latin dan 10.000-15.000 lagi dalam bahasa Siria, Koptik dan bahasa-bahasa kuno lainnya, dan juga kutipan-kutipan dalam tulisan Bapa-Bapa Gereja. Jumlah ini masih terus bertambah setiap tahunnya. Tahun 2008 ditemukan 47 naskah PB di Albania oleh Centre for the Study of New Testament Manuscripts (CSNTM) yang didirikan dan dipimpin oleh Prof. Daniel Wallace, pembicara kita tahun ini. Klik di sini untuk artikel Christian Today.
Mengingat banyaknya varian yang terdapat dalam naskah yang sudah ditemukan, proses memilih dan memilah teks PB yang paling tepat memang merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Apalagi, menurut perkiraan beberapa pakar teks seperti Bart Ehrman, ada sekitar 200.000 sampai 400.000 varian tekstual dalam salinan-salinan PB yang ada! Tidaklah mengherankan jika orang yang tidak memahami ilmu penelitian naskah (textual criticism) bisa menjadi bingung, bahkan terkejut. Tetapi, dalam penelitian naskah, jumlah saja tidak memberi gambaran yang yang sebenarnya. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Bruce Metzger, varian yang ada harus dinilai bobotnya, bukan hanya jumlahnya. Meskipun banyak naskah yang mendukung varian tertentu, bobotnya sangat berkurang jika varian tersebut muncul karena salah eja atau salah baca. Sekitar 70-80 persen varian justru muncul karena perbedaan ejaan, sementara benar tidaknya berbagai varian seperti itu dapat dinilai berdasarkan sejumlah besar naskah yang terbukti sahih.
Salah satu contohnya adalah penyalinan kata ‘KYRIO’ (’Tuhan’) dalam Rm 12:11 dalam bentuk yang dipersingkat. Kata yang sakral itu biasanya disingkat menjadi KO dalam manuskrip-manuskrip. Ternyata, kata ini disalin sebagai KAIRO ‘waktu tertentu, kesempatan’ dalam beberapa naskah. Akibatnya, KO tidak disalin sebagai ‘melayani Tuhan (KYRIO)’, melainkan sebagai ‘melayani waktu (KAIRO)’!

